Bisque

shutterstock.com

Aku menatap gadis di hadapanku. Tangannya sibuk dengan garpu, berusaha menggulung spaghetti. Saus bolognaise sedikit menciprat di baju. Blouse kuning yang dikenakannya kini sedikit ternoda di bagian dada sebelah kiri. Begitulah gadisku, selalu berantakan kalau sedang makan. Ada saja yang mengotori bajunya. Entah saus, coklat, atau kopi. Namun, ia tak pernah peduli. Ia akan terus menikmati makanan seolah itu hidangan terakhirnya.

“Ada saus di bajumu, sayang.” Kuulurkan serbet padanya.

“Nggak apa-apa, Enzo. Nanti dicuci juga hilang nodanya.” Ia tersenyum.

Senyuman itu yang selalu membuatku rindu. Meski sudah delapan bulan kami menjalin kasih, namun aku tak bisa menjumpainya setiap hari. Elina, gadisku, bekerja di luar kota. Kami hanya bisa bertemu sebulan sekali. Itupun hanya empat hari saja. “Hari liburku nggak banyak, Enzo.” Begitu alasannya.

Aku memandangnya lama. Rambut ikal kecoklatan membingkai wajah Elina. Hidung mancung dan bibir mungil yang dipulas lipstik warna pink menambah kesempurnaan penampilannya. Aku tak pernah bosan memandang Elina.

“Enzo….”

“Sebentar, Sayang. Biarkan aku mengagumi wajahmu”

Elina tersenyum. Pipinya merona kemerahan. Kurasa itu rona asli dari wajahnya, bukan polesan pemerah pipi.

“Kuantar kamu pulang, ya. Sudah malam, aku nggak mau dituduh menculik anak gadis,”sahutku sambil berdiri.”Besok kujemput kamu di jam biasa. Ada tempat baru yang ingin kutunjukkan.”

Kukendarai mobil dengan santai sambil berbincang dengan Elina. Setelah 20 menit sampailah aku di sebuah rumah besar bergaya klasik dengan pagar besi berwarna hitam dan emas. Aku belum pernah masuk karena Elina belum mengijinkanku. Katanya, ia belum siap mengenalkanku kepada orangtuanya.

Belum terlalu jauh dari rumah Elina, kulihat tas tangannya tergeletak di kursi penumpang. Aku menepi untuk memeriksa. Siapa tahu ada barang penting yang tertinggal. Namun tas tangan itu hanya berisi saputangan dengan sulaman bunga lily, sebuah jepit rambut berhias batu-batu berwarna ungu, dan empat buah peniti. Aku memutuskan untuk mengembalikan besok pagi.

* * * * *

 

Kukendarai mobil menuju rumah Elina. Sebenarnya janji temu kami nanti sore jam 6, tetapi aku ingin memberi kejutan dengan muncul pagi ini di hadapannya.

Aku berhenti di depan rumah besar berpagar besi yang sudah akrab bagiku. Banyak kendaraan yang terparkir di halaman dan orang-orang memasuki rumah itu. Seingatku Elina tak bercerita apapun saat kami bertemu semalam. Apakah sedang ada pesta di rumah ini? Tetapi orang-orang itu tak nampak mengenakan baju pesta. Rasa penasaranku semakin membuncah.

Kuputuskan masuk ke dalam rumah. Di pintu depan terdapat sebuah X-banner. Rupanya sedang ada pameran boneka dunia. Aku mengambil sebuah brosur yang disediakan. Kutelusuri satu demi satu rak pajangan. Ada kokeshi dari Jepang, matryoshka dari Rusia, bahkan aneka boneka Barbie dan Teddy Bear dipajang di situ.

Memasuki ruangan tengah, mataku tertuju pada sebuah lemari kaca. Pencahayaan diatur sedemikian rupa hingga membuat boneka yang dipajang di dalamnya nampak mempesona. Aku mendekat. Sebuah plat terpasang di depan lemari menerangkan jenis boneka dan asalnya. Boneka bisque dari Perancis. Aku menatap lekat boneka itu. Jantungku berdetak kencang. Rambut ikal kecoklatan, hidung mancung, bibir mungil berwarna pink, dan rona di pipinya sangat kukenal. Kulihat baju yang dipasangkan di boneka itu. Blouse kuning dengan noda saus di dada sebelah kiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Hati Yang Lain

  Gerimis masih turun, bahkan awan gelap yang menggantung seolah menandakan masih lama hujan akan reda. Seorang lelaki…
Read More

Pencuri Waktu

Malam merambat naik. Menelan senja dalam kilau temaramnya. Aku masih disini, menunggumu kembali di sudut sunyi. Engkau yang…
Read More

A MEMORY TO REMEMBER

Jantungku berdegup melihat sosok yang berdiri di hadapan. Titan, siswa kelas X-C. Kaos olahraganya basah karena keringat. Dia…
Read More

Memeluk Melati

  Hembus angin bulan April mengalun beku. Seolah  tahu berat langkahku meninggalkanmu. Semua terjadi di luar kendali. Akupun…
Read More

Organik

Wanita itu memarkir mobil tak jauh dari supermarket. Dari posisinya, ia bisa leluasa mengawasi pengunjung yang keluar masuk.…