Hati Yang Lain

 

wallhere.com

Gerimis masih turun, bahkan awan gelap yang menggantung seolah menandakan masih lama hujan akan reda. Seorang lelaki berlari kecil menuju coffee shop tempatku bekerja. Ia membuka pintu pelan. Badannya tegap dengan titik-titik air yang menetes dari ujung rambut ikalnya. Lelaki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan mencari lokasi yang nyaman. Pilihan jatuh di sebuah meja dekat jendela. Letaknya cukup menyendiri karena terletak di pojok. Sebuah pot monstera yang terletak di samping membuat meja itu terlihat lebih nyaman.

 

Ia meletakkan ransel di kursi sebelum menuju counter untuk memesan. Rambut halus menghiasi wajah bersihnya. Mata agak sipit dan terlihat ramah. Bibirnya kemerahan menandakan ia bukan seorang perokok.

 

“Mbak… Mbak, hello.” Suaranya dalam dan menenangkan. Bahkan lambaian tangannya pun terlihat indah. Jari-jari kurusnya melambai di depan wajahku. Eh, di depan wajahku?

 

“Eh, iya… Maaf.” Aku tergagap melihat ia sudah ada di hadapanku. “Selamat siang, mau pesan apa?” Kurasakan wajahku memanas. Mungkin saat ini aku sudah seperti udang yang disiram air panas. Merah.

“Satu hazelnut latte dan satu croissant.”

Aku mengulangi pesanan yang disebutkannya, “ada tambahan lagi?”

 

Ia menggeleng dan tersenyum. Menampakkan sebaris gigi yang tak terlalu rapi namun menambah pesonanya. Aku menundukkan kepala. Semoga aku tidak pingsan melihat keindahan di hadapanku ini.

 

“Total semuanya tujuh puluh empat ribu,” sahutku sambil memberikan struk kepadanya. Ia mengulurkan selembar ratusan ribu. Dengan sigap aku memberikan uang kembalian. “Silahkan ditunggu sebentar,” kulemparkan sebuah senyum untuknya. Ia mengangguk dan kembali ke kursinya.

 

Ketika aku mengantarkan pesanan, ia sedang sibuk dengan buku di tangannya. Aroma Karsa, bila kutebak dari sampulnya. Aku baru selesai membaca novel tebal itu minggu lalu. Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih ketika aku meletakkan pesanan ke hadapannya. Oh, Tuhan mengapa lututku menjadi lemas melihat senyumnya.

 

Aku melirik lelaki itu. Ia masih sibuk dengan novel di tangan. Sesekali disesapnya hazelnut latte yang mungkin sekarang sudah mulai dingin. Ia seolah tenggelam dalam dunia fiksi yang sedang dibacanya. Bahkan coffe shop yang mulai ramai ini pun tak sedikitpun membuatnya terganggu.

 

Satu jam kemudian baru ia beranjak pergi. Aku melihatnya berlalu. Ia menyeberang dan berjalan ke arah stasiun.

 

“Hei….” tepukan Sarah, teman kerjaku, membuat terkejut. “Siapa itu?” lanjutnya.

 

Aku mengedikkan bahu. “Pelanggan baru,” jawabku singkat.

“Dari tadi kamu memperhatikan dia terus. Kupikir kamu kenal.”

 

Aku menggeleng dan tersenyum ke arah Sarah. “Siapa tahu dia pangeran berkuda putih yang datang menjemputku.”

 

***

 

Sejak hari gerimis itu Dewa, nama lelaki penuh pesona itu, sering datang ke coffe shop. Selalu di hari dan jam yang sama. Oh ya, aku tahu namanya dari Sarah. Entah bagaimana ia bisa mendapat informasi tentang lelaki itu.

 

Dewa datang dua kali seminggu. Setiap hari Selasa dan Kamis jam 14.00. Ia akan duduk di sudut favoritnya selama 1,5 jam. Keluar dari coffee shop, menyeberang lalu berjalan ke arah stasiun.

 

Saat berada di sini ia tak hanya membaca buku. Terkadang ia sibuk dengan laptopnya atau menulis sesuatu di buku catatan.

 

Aku mulai berani menyapa karena sekarang ia sudah menjadi pelanggan tetap di coffee shop. Obrolan singkat pun sering terjadi diantara kami.

 

“Kamu suka baca, ya?” tanyaku suatu hari.

“Iya. Kok, kamu tahu?” sahutnya sambil tersenyum. Oh, Tuhan… Bahkan setelah sering melihatnya pun senyum itu masih saja mempesona.

“Kamu lebih sering terlihat membaca buku daripada sibuk dengan laptop atau menulis di buku catatanmu.”

“Rupanya kamu perhatian sekali. Kamu suka baca juga?”

Aku mengangguk dan tersenyum sebelum berlalu. Takut wajahku kembali memanas di depannya.

 

Beberapa kali ia bertanya tentang rekomendasi buku yang bagus. Aku dengan senang hati menjawab. Kuberikan daftar buku yang menurutku bagus untuk dibaca.

 

Sesekali kami terlibat obrolan singkat tentang buku terbaru. Namun tentu saja aku tak bisa berlama-lama ngobrol dengannya. Aku, kan harus bekerja. Bosku bisa marah kalau melihatku terlalu banyak mengobrol dengan pelanggan. Seandainya suatu hari nanti Dewa memintaku untuk bertemu berdua dengannya, aku akan langsung mengiyakan.

 

Sepertinya Tuhan mendengar doaku. Siang itu ketika mengantar pesanan, kami mengobrol agak panjang. Kebetulan bosku sedang tak ada.

” Kamu kerja sampai jam berapa?” tanyanya.

“Jam 5 sore. Kenapa?”

“Setelah itu kamu ada kegiatan lain, nggak?” lanjutnya.

Aku mulai bertanya-tanya arah pembicaraan Dewa. “Nggak ada,” jawabku sedikit ragu.

“Temani aku ke toko buku, ya?”

Rasanya aku ingin menari mengelilingi coffee shop mendengar ajakan Dewa. Namun aku mencoba tenang. Dengan ringan kujawab ajakannya, “oke.” Tak lupa kutambahkan senyum termanisku. Aku tak tahu apakah ini kencan atau bukan. Tapi ini membuatku bahagia.

 

Ternyata selain penampilannya yang mempesona, ia juga cerdas. Itu terlihat dari caranya bicara dan beropini. Tutur bahasanya santun dan menenangkan. Penuh semangat tapi tetap kalem. Astaga, apa aku sudah jatuh cinta padanya?

 

Hari ini Selasa dan aku yakin Dewa akan datang. Kubayangkan ia masuk melalui pintu itu, tersenyum menatapku dan menyapa, “Hai, Rachel. Pesan yang biasa, ya.”

 

Tanpa kusadari wajahku memanas dan tersenyum sendiri. Kulirik jam dinding. Dewa terlambat 20 menit dari biasanya. Aku mulai bertanya-tanya. Apakah Dewa tidak datang hari ini? Apakah ia sedang sakit? Ah, andai aku punya nomor kontaknya.

 

Tiga menit kemudian sosok yang kukenal memasuki coffee shop. Badan tegap dan rambut ikal khas Dewa. Ia membuka pintu, melangkah masuk dan tersenyum melihatku.

 

“Hai,” sapanya singkat.

Aku membalas senyumnya. Rasanya jantung dan seluruh organku seakan menari dan berjumpalitan. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

 

Pintu coffee shop kembali terbuka. Seorang wanita berparas ayu masuk. Wajahnya tirus dengan senyum manis menghiasi bibir tipisnya. Rambut coklatnya panjang tergerai.

 

Dewa berpaling melihat wanita itu dan memberi tanda agar ia duduk di meja yang ditunjuknya. Jantung dan organku tak lagi menari. Kini mereka luruh seolah tak dialiri oksigen dan darah.

 

Aku berdehem mencoba menguatkan hati yang tiba-tiba porak poranda. “Pacar?”

“Bukan,” sahut Dewa sambil menggeleng dan tertawa kecil. “Tunanganku. Bulan depan kami menikah.” lanjutnya.

 

Seketika lututku lemas. Aku telah menjatuhkan hati di tempat yang salah.

 

 

*TAMAT*

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Memeluk Melati

  Hembus angin bulan April mengalun beku. Seolah  tahu berat langkahku meninggalkanmu. Semua terjadi di luar kendali. Akupun…
Read More

A MEMORY TO REMEMBER

Jantungku berdegup melihat sosok yang berdiri di hadapan. Titan, siswa kelas X-C. Kaos olahraganya basah karena keringat. Dia…
Read More

Pencuri Waktu

Malam merambat naik. Menelan senja dalam kilau temaramnya. Aku masih disini, menunggumu kembali di sudut sunyi. Engkau yang…
Read More

Bisque

Aku menatap gadis di hadapanku. Tangannya sibuk dengan garpu, berusaha menggulung spaghetti. Saus bolognaise sedikit menciprat di baju.…
Read More

Seroja

Bias pelangi di tengah badai. Menuliskan nama yang terlupa. Menghembus di antara ranting patah, menyisipkan cerita sekilas ada.…