Memeluk Melati

lokovoria.com

 

Hembus angin bulan April mengalun beku. Seolah  tahu berat langkahku meninggalkanmu.

Semua terjadi di luar kendali. Akupun terluka dengan semua ini. Entah kapan akan kembali kubelai hitam rambutmu.

Rindu menyusup di setiap lembar napasku. Membisikkan doadoa, melepaskannya mengangkasa bersama harap. Ingin kugenggam jemarimu menyusuri jajaran kembang. Bersama angsa yang pulang ke pelukan senja.

Tersenyumlah. Agar tetap kuat aku berdiri menjelangmu. Meski tak tersentuh namun indah tawamu mewangikan mimpiku. Mengelus perih luka yang tertinggal.

Percayalah, Melati aku akan kembali. Memeluk rapuhmu, membelai suci kelopakmu.

 

Bontang, 29082019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Organik

Wanita itu memarkir mobil tak jauh dari supermarket. Dari posisinya, ia bisa leluasa mengawasi pengunjung yang keluar masuk.…
Read More

Seroja

Bias pelangi di tengah badai. Menuliskan nama yang terlupa. Menghembus di antara ranting patah, menyisipkan cerita sekilas ada.…
Read More

Pencuri Waktu

Malam merambat naik. Menelan senja dalam kilau temaramnya. Aku masih disini, menunggumu kembali di sudut sunyi. Engkau yang…
Read More

Hati Yang Lain

  Gerimis masih turun, bahkan awan gelap yang menggantung seolah menandakan masih lama hujan akan reda. Seorang lelaki…
Read More

Bisque

Aku menatap gadis di hadapanku. Tangannya sibuk dengan garpu, berusaha menggulung spaghetti. Saus bolognaise sedikit menciprat di baju.…
Read More

A MEMORY TO REMEMBER

Jantungku berdegup melihat sosok yang berdiri di hadapan. Titan, siswa kelas X-C. Kaos olahraganya basah karena keringat. Dia…