Organik

gardenhelpful.com

Wanita itu memarkir mobil tak jauh dari supermarket. Dari posisinya, ia bisa leluasa mengawasi pengunjung yang keluar masuk. Sudah hampir 1 jam ia mengamati. Selang beberapa menit kemudian seorang lelaki muda keluar dengan kantong belanja di tangan. Badannya atletis, karena ia sering berlatih di gym. Ia pun tak merokok maupun minum alkohol. Wanita itu tahu semua karena sudah hampir seminggu ini ia mengintai lelaki buruannya. Dari tempatnya memantau ia bisa melihat barang belanjaan lelaki itu. Beberapa sayuran hijau tampak memenuhi kantong belanja.

Supermarket itu kecil dan tempatnya agak terpencil. Orang jarang berbelanja ke situ karena mereka hanya menjual produk-produk organik. Kebanyakan warga akan berbelanja di supermarket di tengah kota yang lebih mudah dijangkau.

Wanita bermata hazel itu mematut wajah di cermin. Memulas kembali lipstik dan merapikan rambutnya. Meskipun sudah berusia kepala empat namun ia masih nampak menarik. Orang sering mengira ia berusia awal tiga puluhan.

Ia keluar dari mobil dan membuka kap mesin. Dipasangnya wajah panik dan kebingungan. Sesekali diliriknya lelaki yang sedari tadi diintai.

Lelaki itu mendekati, “Ada yang bisa kubantu?”

“Oh… Hai… Mmm… Aku nggak tau masalahnya apa, tiba-tiba mesin mobilku mati dan nggak bisa dinyalakan. Aku nggak tau banyak soal mesin mobil.” Wanita itu menjelaskan sambil memainkan rambut ikalnya.

“Coba kuperiksa dulu.” Lelaki itu mendekat ke bagian mesin. Mata dan tangannya awas menelusuri satu per satu bagian mesin. “Perempuan memang jarang yang mengerti tentang mesin. Mereka cuma bisa pakai saja. Jangan tersinggung, ya.”

Wanita berkulit kecoklatan itu hanya tertawa kecil. Perlahan ia mendekat lalu mengeluarkan jarum suntik dari kantongnya. “Apa yang rusak?” tanyanya.

“Sepertinya mobilmu baik-baik saja. Aku sudah … Hmmpff … .” Ia membekap lelaki itu kemudian menancapkan jarum suntik ke lehernya. Tak berapa lama badan lelaki itu mulai lunglai. Ia menuntunnya menuju kursi belakang mobil. Matanya waspada mengawasi keadaan sekitar. Ia tak ingin aksinya kali ini dipergoki orang .

Wanita itu memarkir mobil lalu menyeret tubuh lelaki itu ke gudang di belakang rumah. Ia menutupinya dengan terpal dan menumpuk beberapa kardus dan jerigen kosong di atasnya. Lalu ia kembali ke mobil, mengambil belanjaan dan melangkah ringan memasuki rumah.

*****

Clara membuka pintu depan dan langsung menuju dapur. Di rumah itu ia hanya tinggal berdua dengan Mario, anaknya yang berusia 7 tahun. Rumah pertanian ini ia warisi dari ayahnya. Kakak-kakak Clara semua tinggal di kota besar. Tak ada yang mau mengurus pertanian tua itu lagi. Tersisa Clara yang terpaksa bertahan di kota kecil itu. Tiga tahun lalu Garry, suaminya meninggal karena kecelakaan. Kini Clara harus bekerja sendiri untuk menghidupi diri dan anaknya. Pertanian sudah tidak bisa banyak diharapkan sejak wabah penyakit menyerang hewan ternak mereka.

“Clara, kaukah itu, Nak?” Panggil Nyonya Arnette ketika mendengar suara pintu depan ditutup. Nyonya Arnette tinggal tak jauh dari rumah Clara. Ia yang selalu dimintai tolong oleh Clara untuk menjaga Mario kalau Clara sedang bekerja.

“Ya, Nyonya,” sahut Clara sambil meletakkan belanjaan di meja dapur.

“Syukurlah. Hari sudah gelap, kupikir kamu akan bekerja lembur.” Clara tersenyum menanggapi Nyonya Arnette.

“Di mana Mario?”

“Sepertinya sedang membaca di beranda belakang.” Nyonya Arnette menyahut sambil mengemasi barang-barangnya. “Aku harus pulang, suamiku pasti sudah menunggu. Oh, ya kamu jangan pulang terlalu malam, Nak. Ibu lihat di berita sedang terjadi pembunuhan misterius di kota ini. Kamu harus berhati-hati. Sampai saat ini pelakunya masih berkeliaran,” ujarnya sambil membetulkan jaket rajutan biru yang selalu dikenakannya.

“Tenang saja, Nyonya. Kan, aku pernah belajar karate. Nanti kalau ada orang jahat biar kulawan dengan jurus-jurus karate. ” Sahut Clara menenangkan.

“Ah, kamu ini belajar karate, kan sewaktu sekolah. Itupun kamu sering bolos. Kamu lebih memilih main basket di lapangan ujung situ daripada berlatih karate,” ujar Nyonya Arnette sambil terkekeh. Mau tak mau Clara pun ikut tertawa mengingat kebandelannya dulu.

‘Nyonya Arnette nggak tahu kalau badanku sekarang lebih kuat karena bekerja di pertanian,’ ujar Clara dalam hati.

“Aku pulang dulu, ya. Jaga dirimu.” Sahut Nyonya Arnette sambil melangkah ke pintu depan. Clara melambaikan tangan mengiringi kepergian Nyonya Arnette.

Clara melangkah menuju dapur. Ia harus segera menyiapkan makan malam. “Mario, bantu mama menyiapkan makan malam.” Mario bergegas menuju dapur tanpa menjawab. Anak tujuh tahun itu sudah terlatih mandiri sejak dini. Keadaanlah yang memaksanya untuk itu. Ia harus bisa menyiapkan makanan sendiri ketika ibunya bekerja. Meskipun ada Nyonya Arnette, tetapi wanita tua itu biasanya lebih asik merajut atau bahkan ketiduran di kursi daripada menjaga Mario. Berbeda dari anak-anak seusianya, Mario lebih suka berdiam di rumah dan menghabiskan waktu untuk membaca buku. Anak-anak seusianya pasti lebih suka bermain di luar bersama teman-teman.

Mario menderita sebuah penyakit langka. Bahkan sampai saat ini pun dokter belum tahu apa sakit yang diderita Mario. Setiap hari ia harus minum obat yang jumlahnya tak sedikit. Hal itu juga yang menjadi salah satu alasan ia jarang bermain bersama di luar. Ia malu karena sering diejek teman-temannya.

“Malam ini kita makan apa, Ma?” Mario melihat mamanya membongkar tas belanja. Hanya ada daging, bumbu-bumbu, roti, dan beberapa makanan kaleng siap saji.

“Mama akan membuat ayam lemon. Hmm… Sepertinya semangkuk salad segar bisa jadi pelengkapnya. Kamu mau?” Mario mengangguk dengan antusias. Ia memang susah makan, tapi ia sangat menyukai salad buatan mamaya. Rasanya berbeda dengan salad yang pernah ia makan di tempat lain. Mungkin karena mamanya menanam sendiri semua sayurannya.

Di kebun kecil mereka Clara menanam banyak sayuran. Selada, tomat, mentimun, paprika, brokoli, dan banyak lagi. Ia selalu merawat kebun kecil itu setiap malam sebelum tidur. Clara tak pernah mengizinkan Mario datang ke kebun itu. Bukan hanya kebun, tetapi juga gudang yang ada di dekat kebun itu.

Suatu hari Clara pernah memarahi Mario yang tiba-tiba muncul di gudang itu saat Clara sedang membereskan sesuatu. “Mario, Mama sudah melarang kamu untuk datang kesini. Kenapa kamu tetap nekat datang?! Di sini banyak alat-alat pertanian. Berbahaya kalau nanti kamu tertimpa salah satunya!” Clara murka. Sementara Mario hanya menunduk dan tak berani menatap. Padahal ia hanya ingin meminta mamanya untuk membacakan cerita sebelum tidur. Sejak saat itu Mario tak pernah berani mendatangi gudang maupun kebun di belakang rumah mereka. Ia terlalu takut melihat kemarahan mamanya.

*****

Setelah membersihkan dapur dan menidurkan Mario, Clara berjalan menuju gudang. Buruannya sore tadi harus segera diolah. Diambilnya apron plastik dari dinding. Ia tak ingin bajunya ternoda darah. Ia mulai menyiapkan peralatan. Gergaji, parang, pisau, ember, dan tak lupa menyiapkan selang air untuk membersihkan sisa-sisa hasil pekerjaannya.

Disibaknya terpal yang menutupi tubuh buruannya. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaan sebelum pagi. Clara mulai memutilasi tubuh buruannya. Memotong-motong menjadi bagian kecil lalu memasukkan ke dalam mesin pencacah. Ayahnya dulu memakai mesin itu untuk mencacah jerami pakan sapi. Darah mengalir seperti anak sungai. Clara menyiapkan ember-ember besar dan mulai menampung cacahan daging yang keluar dari mesin.

Ia mengangkat ember itu satu per satu ke kebun. Dengan sebuah cangkul kecil dibuatnya lubang di sekitar tanaman lalu memasukkan cacahan daging itu dan menutupnya kembali dengan tanah. Ia berharap tanaman-tanaman itu tumbuh menjadi obat untuk Mario. Buruannya berbadan sehat, pasti akan memberi nutrisi yang baik untuk tanaman-tanaman ini.

Sejak remaja Clara menderita asma, namun tiga tahun lalu penyakit yang dideritanya sembuh. Ia selalu mengatakan bahwa penyakitnya sembuh karena rajin memakan salad yang dibuat dari hasil kebunnya. Tetapi tak ada yang tahu bahwa Clara memupuk kebun dengan cacahan tubuh suaminya. Garry yang sehat, rajin ke gym, tak merokok, dan tak minum alkohol. Garry yang selalu membuat tubuh Clara membiru setiap kali amarah menyergapnya.

 

TAMAT

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Bisque

Aku menatap gadis di hadapanku. Tangannya sibuk dengan garpu, berusaha menggulung spaghetti. Saus bolognaise sedikit menciprat di baju.…
Read More

A MEMORY TO REMEMBER

Jantungku berdegup melihat sosok yang berdiri di hadapan. Titan, siswa kelas X-C. Kaos olahraganya basah karena keringat. Dia…
Read More

Seroja

Bias pelangi di tengah badai. Menuliskan nama yang terlupa. Menghembus di antara ranting patah, menyisipkan cerita sekilas ada.…
Read More

Pencuri Waktu

Malam merambat naik. Menelan senja dalam kilau temaramnya. Aku masih disini, menunggumu kembali di sudut sunyi. Engkau yang…
Read More

Hati Yang Lain

  Gerimis masih turun, bahkan awan gelap yang menggantung seolah menandakan masih lama hujan akan reda. Seorang lelaki…
Sumber gambar: hipwee.com
Read More

‘Cause I’m Precious

Haris mengoleskan obat luka di pelipis kanan Kyra. Luka itu tak terlalu dalam, namun pasti akan meninggalkan bekas.…