A MEMORY TO REMEMBER

Sumber gambar: piqsels.com

Jantungku berdegup melihat sosok yang berdiri di hadapan. Titan, siswa kelas X-C. Kaos olahraganya basah karena keringat. Dia baru selesai basket bersama kawan-kawannya. Tak sengaja kami berpapasan di lorong menuju kelas. Kulihat dia tersenyum ke arahku. Dengan hati yang berdebar kubalas senyumnya dan segera berlalu.

Aku mengenal Titan ketika SMP. Saat itu sedang ada kegiatan pameran proyek science. Aku mengenalnya sebagai salah satu peserta bersama dua temannya. Dibanding yang lain, Titan sangat menonjol. Anaknya supel, ramah, dan cerdas. Dia bisa menjelaskan dengan baik setiap pertanyaan yang diajukan juri. Tak heran kalau kelompoknya memenangkan penilaian proyek science terbaik tahun itu.

Di SMA kami bertemu lagi. Meski tak sekelas, tapi aku sering berpapasan dengannya karena kelas kami bersebelahan. Dia juga sering lewat di depan kelasku setiap ada panggilan untuk pengurus OSIS. Oh iya, dia adalah wakil ketua OSIS . Wajar saja, kan kalau banyak cewek-cewek yang mengidolakan dia. Bahkan tak sedikit yang terang-terangan mencari perhatiannya. Aku bukan salah satu diantara mereka. Aku hanya pengagum rahasia yang menatap Titan dari kejauhan.

Sita, teman sebangkuku menyikut ketika dilihatnya Titan lewat depan kelas kami. Seperti biasa, aku hanya menatap sosok berambut lurus itu hingga menghilang.

“Kamu seharusnya nggak perlu sembunyi-sembunyi begini kalau memang suka dengan Titan,” kata Sita tiba-tiba.

“Penggemarnya sudah terlalu banyak, Ta,” sahutku.

“Lalu kenapa? Kamu takut bersaing dengan mereka? Belum tentu juga Titan membalas perasaan mereka. Bagaimana kalau Titan sukanya sama kamu?”

Ah, Sita selalu saja melihat segalanya dengan sisi positif. Berbeda denganku yang terlalu penakut menghadapi kenyataan pahit yang mungkin akan kuterima.

“Besok kita ketemuan di café biasa sepulang sekolah. Akan kuajak Titan juga. Pokoknya besok kamu harus sampaikan perasaanmu. Jaman sekarang, cewek juga boleh nembak duluan. Nggak harus nunggu ditembak sama cowok. Sepet aku lihat mukamu yang salah tingkah tiap ketemu dia.” Sita berceloteh panjang yang terdengar seperti sebuah perintah di telingaku.

“Bagaimana kalau ternyata dia nggak suka sama aku?”

“Amanda, dengerin, ya. Apapun jawaban yang kamu terima besok, itu adalah titik awal buat kamu untuk melanjutkan hidupmu. Kalau Titan suka sam kamu, ya udah kalian lanjutin hubungan. Tapi kalau kamu ditolak, berarti udah waktunya kamu buka kacamata kamu dan cari cowok lain. Di luar sana masih banyak cowok yang lebih pinter dan ganteng dari Titan. Nanti aku bantuin kamu cari cowok kalau memang kamu nggak sanggup.”

Aku terdiam mendengar ocehan panjang sahabatku. Omongan Sita ada benarnya juga. Aku nggak boleh berlama-lama tersiksa dengan perasaan terpendam kepada Titan. Baiklah, sudah kuputuskan untuk menyampaikan perasaanku. Apa pun jawaban yang akan kuterima besok, aku harus menerima. Setidaknya malam ini aku harus mempersiapkan hatiku dengan kemungkinan terburuk.

Keesokan hari sepulang sekolah, Sita menepati janjinya. Dia muncul bersama Titan di café langganan kami. Tak lama setelah duduk, Sita pun meninggalkan kami. Dia beralasan bahwa mamanya menelfon dan minta diantar ke toko emas. Mama Sita memang hobi mengoleksi perhiasan emas, tapi Sita sedikitpun tak tertarik dengan hobi mamanya.

“Kamu mau minum apa, Manda?” Tanya Titan.

Oh, Tuhan suara itu. Mendengar suaranya saja sudah membuat jantungku berdebar lebih kencang. Aku tak tahu apakah aku sanggup menyampaikan perasaanku kepadanya hari ini.

“Manda… Amanda…, hai. Jangan melamun.” Titan tertawa kecil melihatku. Aku tersipu dibuatnya. Ah, bodoh sekali, kenapa aku harus salah tingkah.

“Kamu mau minum apa?” Titan mengulangi pertanyaannya lagi.

“Aku udah pesan tadi,” jawabku.

“Oke kalau begitu. Aku pesan dulu, ya.” Titan bangkit dan menuju ke counter untuk memesan. Tak lama dia sudah kembali dan duduk di hadapanku.

“Sita bilang ada yang mau kamu ceritakan. Apa itu?”

Aku menarik napas, mencoba menenangkan jantung yang sedari tadi berdegup tak karuan. Seluruh badanku terasa dingin, tanganku gemetar.

Lalu meluncurlah semua perasaan terpendam itu kepada Titan. Aku tidak ingat apa tepatnya yang kusampaikan kepadanya hari itu. Yang aku ingat hanyalah jawaban yang kuterima dari Titan.

“Terima kasih sudah jujur dengan perasaanmu, Manda. Nggak semua orang bisa berani seperti kamu. Aku merasa tersanjung menerima ungkapan dari kamu.” Titan mengambil gelas dan mulai menyesap sedikit isinya. Degup jantungku masih berlarian tak karuan. Dingin sudah menjalar sampai ke organ dalamku seolah baru saja diguyur seember air es.

“Sedikitpun aku nggak bermaksud untuk nyakitin kamu, tapi jujur saja saat ini aku sedang dekat dengan seseorang. Aku harap kamu bisa mengerti. Aku ingin kita masih bisa berteman. Udah lama aku ingin bisa ngobrol banyak sama kamu, tapi kulihat kamu selalu menjaga jarak. Jadi, aku pun agak kikuk kalau mau menyapa kamu.” Titan tersenyum sambil menggaruk kepalanya.

Mendengar jawaban panjang darinya serasa beban berat diangkat dari pundakku. Disaat bersamaan aku pun merasa jantungku melorot sampai lutut. Aku lega sekaligus kecewa dan sedih. Entahlah, aku sendiri susah menggambarkan perasaanku.

* * * * * * * * *
Aku melangkah pelan di jalan setapak. Beberapa bunga yang ditanam di sisi-sisinya bergoyang ditiup angin, menguarkan aroma wangi yang mengiringiku. Sepulang kuliah, kusempatkan mampir ke tempat ini. Aku ingin mengunjungi Titan. Sejak peristiwa di café itu, kami jadi lebih akrab dan berteman baik. Obrolan dengannya selalu seru. Kami saling berbagi cerita tentang hobi dan impian-impian kami. Dia tahu aku ingin masuk jurusan mikrobiologi dan selalu menyemangatiku untuk menggapainya.

Aku langsung duduk begitu sampai di tempatnya. Kuusap pusara putih bertulis namanya. Titan Adhinata bin Dierja Adhinata, wafat 13 Desember 2019.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Pencuri Waktu

Malam merambat naik. Menelan senja dalam kilau temaramnya. Aku masih disini, menunggumu kembali di sudut sunyi. Engkau yang…
Sumber gambar: hipwee.com
Read More

‘Cause I’m Precious

Haris mengoleskan obat luka di pelipis kanan Kyra. Luka itu tak terlalu dalam, namun pasti akan meninggalkan bekas.…
Read More

Hati Yang Lain

  Gerimis masih turun, bahkan awan gelap yang menggantung seolah menandakan masih lama hujan akan reda. Seorang lelaki…
Read More

Organik

Wanita itu memarkir mobil tak jauh dari supermarket. Dari posisinya, ia bisa leluasa mengawasi pengunjung yang keluar masuk.…
Read More

Seroja

Bias pelangi di tengah badai. Menuliskan nama yang terlupa. Menghembus di antara ranting patah, menyisipkan cerita sekilas ada.…
Read More

Bisque

Aku menatap gadis di hadapanku. Tangannya sibuk dengan garpu, berusaha menggulung spaghetti. Saus bolognaise sedikit menciprat di baju.…