‘Cause I’m Precious

Sumber gambar: hipwee.com

Haris mengoleskan obat luka di pelipis kanan Kyra. Luka itu tak terlalu dalam, namun pasti akan meninggalkan bekas. Kyra meringis kesakitan ketika Haris menutupkan perban pada lukanya.

“Aku minta maaf, Kyra. Aku tak sengaja melukaimu. Sekarang kamu istirahat, ya.” Lelaki berbadan kekar itu memegang tangan Kyra dan mengecupnya. Kyra bergeming dan meringkuk tak berdaya. Ia yakin semua yang terjadi hari ini bukannya tak disengaja oleh Haris. Sesaat tadi suaminya memukulkan balok kayu ke kepala Kyra. Tak cukup dengan itu, Haris menampar dan menendang Kyra sampai wanita bermata cokelat itu tak berdaya. Kyra sedikitpun tak melawan, karena ia sudah hafal tabiat suaminya. Meski Kyra menangis dan memohon, Haris tak akan berhenti sebelum ia puas melampiaskan amarah. Ini bukan kejadian pertama yang dialami Kyra. Sejak belum menikah, Haris sudah sering melakukan kekerasan padanya. Namun sejak menikah, sikap kasar haris semakin menjadi-jadi. Sebuah hal kecil saja bisa membuatnya murka dan memukul Kyra.

Kyra tak pernah menyangka sikap Haris semakin hari akan semakin kasar. Saat memutuskan untuk menerima pinangannya, ia berharap semua sikap kasar Haris akan berhenti. Namun semua harapan itu tak pernah terwujud. Seminggu setelah pernikahan mereka, Haris kembali memukulnya hanya karena kopi yang dibuat oleh Kyra kurang panas.

Orang tua Kyra tak pernah tahu yang terjadi pada anaknya. Setiap berkunjung, wanita muda itu terus menutupi keadaan yang sebenarnya. Ia akan beralasan terpeleset di kamar mandi, tak sengaja menabrak almari atau teriris pisau saat memasak bila orangtuanya menanyakan lebam dan luka di tubuh Kyra. Hanya Mika, sahabat satu-satunya yang tahu tentang keadaan Kyra yang sebenarnya.

“Suamimu itu sakit jiwa,” kata Mika suatu hari saat Kyra menceritakan apa yang dialaminya. “Kenapa, sih kamu masih mau menikah dengan laki-laki itu setelah apa yang dia lakukan kepadamu? Wajahnya biasa aja, kerjaan nggak punya, apa lagi yang kamu harapkan? Mau sampai kapan kamu jadi sandsack hidup buat dia?” lanjut Mika panjang lebar.

“Aku yakin suatu saat dia akan berubah, Ka,” sahut Kyra pendek.

“Kyra, dengerin, ya. Laki-laki macam itu nggak akan bisa berubah.”

“Dia selalu minta maaf,” Kyra berbisik, membela Haris.

“Sudah berapa kali dia minta maaf dan sudah berapa kali dia memukulmu? Kejadiannya selalu sama, kan? Dia memukulmu, lalu setelah itu minta maaf. Selanjutnya kalian akan tertawa-tawa bahagia seperti pengantin baru, kemudian lelaki kurang ajar itu akan kembali memukulmu dan kejadian berulang lagi dari awal.” Mika menyesap kopi di depannya sebelum melanjutkan.”Coba, deh kamu pikirin. Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang. Buat apa kamu habiskan hidupmu hanya menjadi tempat pelampiasan kemarahan Haris? Pernikahan tidak seperti itu, Kyra. Kamu masih punya kesempatan untuk keluar dari lingkaran sesat ini sebelum nyawamu melayang. Saat ini kamu masih bisa ketemu aku, tapi siapa yang tahu nasibmu besok? Bisa saja Haris memukulmu sampai mati.”

Ucapan Mika membuat Kyra tercenung. Ia ingat orangtua yang sudah merawatnya sejak kecil. Tak pernah sekalipun mereka memukul dan melukai tubuh Kyra. Segala kenangan masa kecil Kyra terpampang silih berganti di kepalanya. Ia harus membuat keputusan. Ia tak bisa terus bertahan dengan keadaan ini.

* * * * * * *
Kyra melangkah keluar dari gedung bercat cokelat itu dengan langkah kaki lebih ringan. Sesaat tadi ia sudah mengajukan gugatan perceraian. Ia tak ingin lagi menjadi sandsack hidup untuk Haris. Hidupnya lebih berharga, masa depan pun masih panjang. Hari itu, untuk pertama kalinya segaris senyum tersungging di bibir Kyra.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

A MEMORY TO REMEMBER

Jantungku berdegup melihat sosok yang berdiri di hadapan. Titan, siswa kelas X-C. Kaos olahraganya basah karena keringat. Dia…
Read More

Bisque

Aku menatap gadis di hadapanku. Tangannya sibuk dengan garpu, berusaha menggulung spaghetti. Saus bolognaise sedikit menciprat di baju.…
Read More

Organik

Wanita itu memarkir mobil tak jauh dari supermarket. Dari posisinya, ia bisa leluasa mengawasi pengunjung yang keluar masuk.…
Read More

Memeluk Melati

  Hembus angin bulan April mengalun beku. Seolah  tahu berat langkahku meninggalkanmu. Semua terjadi di luar kendali. Akupun…
Read More

Pencuri Waktu

Malam merambat naik. Menelan senja dalam kilau temaramnya. Aku masih disini, menunggumu kembali di sudut sunyi. Engkau yang…
Read More

Seroja

Bias pelangi di tengah badai. Menuliskan nama yang terlupa. Menghembus di antara ranting patah, menyisipkan cerita sekilas ada.…