AKU DI SINI UNTUKMU

Pict: theblues-care.blogspot.com

Pict: theblues-care.blogspot.com

Sebuah kabar di grup Whatsapp membuatku terkejut. Kabar duka dari seorang teman yang kehilangan putra tercintanya. Anak satu-satunya yang ia miliki. Aku tak dapat membayangkan bagaimana perasaannya. Perjuangan berbulan-bulan demi kesembuhan putranya berakhir dengan duka. Beberapa kali berkabar dengannya dan mengikuti perkembangan pengobatan sang putra membuatku sedikit banyak mengetahui perjuangan ia dan keluarga.

Temanku itu seorang pejuang. Aku mengenalnya hampir enam tahun lalu. Kisah hidupnya yang berliku tak pernah memudarkan senyum yang selalu menghias wajahnya. Tak pernah sekalipun kulihat ia menangis atau marah. Selalu senyum dan tawa yang kulihat darinya. Kami yang berada di sekitarnya selalu terbawa dengan keceriannya. Bahkan kalaupun ia marah selalu terbalut dengan senyum dan canda.

Sebagai yang tertua diantara kami, ia selalu banyak memberikan nasehat. Bahkan aku lebih banyak curhat kepadanya. Ketika aku memutuskan untuk mutasi, ia termasuk orang pertama yang kumintai pendapat. Ia yang memberi banyak masukan sebagai bahan pertimbanganku untuk mengambil keputusan. Sebagai seorang teman, ia tak pernah menghakimi. Baginya segala hal yang terjadi dalam hidup adalah buah dari keputusan yang kita ambil.

Dengan sifat-sifat baik yang ada padanya tentu tidak mengherankan kalau temannya banyak. Mulai dari anak sekolah hingga orang dewasa. Dalam organisasi yang diikutinya, ia banyak membimbing. Terutama untuk adik-adik usia sekolah. Ia bisa dengan mudah membaur ke segala lingkungan.

Ia juga salah satu orang yang mendukung kegiatan menulisku. Ia banyak memberi masukan dan ide untuk tulisanku. Bahkan ada satu cerpenku yang terinspirasi dari kisahnya. Tentu saja kisah itu kutuliskan setelah mendapat ijin darinya.

Bila bertemu, aku dan dia sangat cocok. Aku yang pendiam ini sering kali tak tahu harus memulai perbincangan dari mana. Sedangkan ia dengan segala celotehnya selalu saja menemukan bahan pembicaraan yang akan membuat segalanya mengalir. Aku hanya akan diam mendengarkan celotehnya. Yah, sesekali meanggapi dengan pertanyaan atau opini. Tetapi ia seolah tak pernah kehabisan bahan percakapan. Kurasa ia seorang sanguinis sejati.

Sebagai teman dan rekan kerja, ia sangat bisa diandalkan. Ia akan dengan senang hati membantu walaupun pekerjaannya sendiri masih menumpuk. Tak pernah sekalipun aku menjumpai ia menolak untuk membantu. Bahkan di tengah deadline pekerjaan pun ia masih bisa menyelesaikan dengan ceria.

Bagiku ia adalah teman yang istimewa. Ketika aku datang merantau di kota yang asing ini, aku menemukan kenyamanan berada di dekatnya. Tak menunggu waktu lama bagiku untuk akrab dan mulai berbagi kisah dengannya. Terkadang aku cemburu dengan sifatnya yang ceria. Sementara aku termasuk orang yang sensitif atau baperan kalau kata anak jaman sekarang. Aku ingin juga bisa berbaur dengan semua orang dari segala kalangan. Tetapi rasanya tak mudah bagiku untuk melakukannya. Mungkin karena sudah menjadi sifatku sebagai seorang introvert.

Aku hanya berharap di tengah duka yang sedang menyelimuti keluarganya, ia akan segera menemukan keceriannya kembali. Semua akan butuh proses, tetapi aku yakin suatu saat senyum cerahnya akan kembali. Saat ini aku merindukan celotehnya. Akhir tahun kemarin kami merencanakan sebuah pertemuan dengan teman-teman yang lain. Semenjak pindah kantor, aku jarang sekali bertemu dengan mereka. Namun karena kesibukan masing-masing dan beban kerja akhir tahun yang tak henti, akhirnya rencana itu belum terlaksana. Semoga segera setelah PPKM (Pemberlakuan Pembatasan kegiatan Masyarakat) ini dicabut, kami dapat segera bertemu.

Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like