Flash Fiction: Play With Me, Please

 “Sudah sampai, Kak.” Suara pengemudi taksi online membawa Lana kembali ke alam sadar. Dipandanginya rumah bercat sage dan memastikan bahwa alamat itu telah sesuai dengan catatan yang sedari tadi ada dalam genggamannya. Gadis itu segera mengangsurkan ongkos taksi dan bergegas memasuki halaman setelah mengucapkan terima kasih.

Dengan berlari kecil, Lana memasuki halaman dan memencet bel pintu. Sebuah sahutan terdengar dari dalam rumah. Sejenak Lana mengedarkan pandangan ke sekitar halaman rumah besar itu. Seorang gadis kecil tampak asik bermain ayunan. Rambut panjangnya berkibar ditiup angin. Belum sempat Lana memperhatikan lebih jauh, pintu rumah telah terbuka. Shanty, teman yang baru dikenalnya beberapa bulan ini di tempat gym, berdiri di hadapannya.

“Hai, Lana! Yuk, masuk dulu. Sebentar aku ambil barang-barangku.”

Lana mengikuti Shanty memasuki ruang tamu yang cukup besar. Beberapa foto terpajang di dinding. Sebuah foto menarik perhatiannya. Foto seorang gadis berusia 12 tahun dengan rambut panjang dan bando berwarna pink menghiasi kepalanya.

“Foto siapa ini?”

Shanty menoleh sekilas. “Oh, itu adikku. Dia meninggal dua bulan yang lalu. Kecelakaan.”

Seketika badan Lana lemas. Gadis kecil di foto itu sedang bermain ayunan di halaman depan. Dia tersenyum polos menatap Lana dari kejauhan.

 

– T A M A T    –

0 Shares:
21 comments
  1. Horor ini, Kak. Pas banget bacanya lagi siang hari. Udah lama nggak baca flash fiction, nih. Ditunggu kisah seru lainnya, Kak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Read More

Hati Yang Lain

  Gerimis masih turun, bahkan awan gelap yang menggantung seolah menandakan masih lama hujan akan reda. Seorang lelaki…
Read More

Memeluk Melati

  Hembus angin bulan April mengalun beku. Seolah  tahu berat langkahku meninggalkanmu. Semua terjadi di luar kendali. Akupun…
Read More

Pencuri Waktu

Malam merambat naik. Menelan senja dalam kilau temaramnya. Aku masih disini, menunggumu kembali di sudut sunyi. Engkau yang…
Read More

Bisque

Aku menatap gadis di hadapanku. Tangannya sibuk dengan garpu, berusaha menggulung spaghetti. Saus bolognaise sedikit menciprat di baju.…
Read More

A MEMORY TO REMEMBER

Jantungku berdegup melihat sosok yang berdiri di hadapan. Titan, siswa kelas X-C. Kaos olahraganya basah karena keringat. Dia…
Read More

Seroja

Bias pelangi di tengah badai. Menuliskan nama yang terlupa. Menghembus di antara ranting patah, menyisipkan cerita sekilas ada.…